Apa Itu Wahabi?

/

/

Apa Itu Wahabi?

Eko Suwarsono Avatar
Share this…

Apa itu wahabi???
by Adjisar Ch

Kita sering mendengar kata-kata “Wahabi” tapi tahukah sahabat siapa itu wahabi, bagaimana kiprahnya dalam dunia Islam. Bukankah Wahabi berasal dari Asmaul Husna “Al Wahhab” yang berarti “Allah Maha Pemberi Karunia”, artinya yang memberi nikmat, rezeki dan anugerah kepada seluruh makhluk-Nya tanpa batas, tanpa diminta, tanpa mengharapkan imbalan, dan dilakukan secara terus-menerus.

Al Wahhab mencakup pemberian baik material, maupun spiritual, sebagaimana firman-Nya:

(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 8).

atau apakah mereka itu mempunyai perbendeharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa, Maha pemberi. (QS Sad [38]: 9).

Dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (QS Sad [38]: 35).

Jadi arti dari lafazh “Al Wahhab” bahwa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memberi tanpa imbalan, tanpa ada tujuan dan kepentingan, baik yang bersifat duniawi ataupun ukhrawi.

Artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi secara terus-menerus (berkesinambungan) dan tanpa batas. Sifat memberi yang seperti ini boleh dikatakan mustahil bagi seorang manusia manapun. Allahu a’lam.

Karena itu, siapa yang memberi disertai dengan tujuan duniawi atau ukhrawi, baik tujuan itu berupa pujian, mengharapkan like dan jempol di sosmed, meraih persahabatan, menghindari celaan atau mendapatkan kehormatan, maka dia bukanlah “Wahhab”.

Maka, seorang yang berikrar beragama Islam semampunya wajib meneladani sifat “Al Wahhab”, yaitu mampu mengorbankan sebagian rezekinya kepada orang lain yang lebih membutuhkannya dan atau untuk kepentingan syiar agama Islam.

Sebaliknya yang terjadi di era now, istilah “Wahabi” ditudingkan kepada umat Islam yang dianggap berada di garis keras, yang sering menyuarakan bid’ah, syubhat, khurafat dan syirik, yang menyuarakan pemurnian ajaran Islam.

Dalam khazanah sejarah Islam terutama di Indonesia nama “Wahab” tidak terlepas dari tiga orang tokoh yang bernama Abdul Wahab, yaitu:

  1. Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum
    Lahir sekitar tahun 747/748 M dan wafat sekitar tahun 823/824 M, adalah pendiri aliran Khawarij Rustumiyah dan dijuluki dengan Wahabi atau Wahabiyah, beliau mewarisi kekuasaan dan pemikiran bapaknya. Sekte ini muncul di daerah Afrika Utara (sekarang menjadi negara Aljazair, Tunisia, Lybia, Maroko dan Mauritania), dan sekte ini dibubarkan pada tahun 909 M

Wahabi ini merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahlussunnah, mereka suka mengkafirkan kaum muslimin, memberontak kepada pemerintahan, dan sangat jauh dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

  1. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
    Lahir tahun 1701 M di kampung Uyainah, Najd, Arab Saudi dan wafat tahun 1793 M. Beliau berasal dari kabilah Bani Tamim, merupakan seorang ulama dari mazhab Hambali, berdakwah untuk memurnikan ajaran Islam dari bentuk penyimpangan seperti syirik, bidah, khurafat, syubhat dan tahayul.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengutuk penyembahan berhala, melarang kuburan orang saleh dijadikan kuil, melarang menjadikan kuburan sebagai tempat peribadahan mengutuk pengkultusan orang-orang populer, termasuk dan tidak terbatas kepada dai-dai viral, karena “Di atas setiap orang yang berpengetahuan, ada yang lebih mengetahui.” (QS Yusuf 12:76), dan kemaksuman hanya diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada para Nabi dan Rasul.

Menurut penulis berkebangsaan Saudi, Abdul Aziz Qasim, yang pertama kali memberikan julukan Wahabi kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Kekhalifahan Ottoman, kemudian bangsa Inggris mengadopsi julukan tersebut dan menggunakannya di Timur Tengah.

Al-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, semestinya kalaupun harus ada faham baru yang dibawa oleh Al-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bentuk penisbatannya adalah “Muhammadiyyah”, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.

  1. K.H Abdul Wahab bin Hasbullah dari Indonesia bersama KH Hasyim Asy’ari sebagai penggagas dan perintis berdirinya Nahdatul Ulama sebagai wadah ulama tradisional untuk membentengi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dan melawan penjajah.

Kiai Haji Abdul Wahab bin Hasbullah, lahir di Jombang, 31 Maret 1888 – wafat 29 Desember 1971 pada umur 83 tahun, adalah seorang ulama kharismatk pendiri Nahdatul Ulama, berpandangan modern, dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 7 November 2014.

Jadi ada 3 orang yang bernama Wahab, yaitu:

  1. Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum, adalah khawarij, ajarannya menyimpang dari ajaran Islam, dan sekte ini dibubarkan pada tahun 909 M.
  2. Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang berdakwah untuk memurnikan ajaran Islam, dan diberi julukan Wahabi untuk pertama kalinya di zaman Kekhalifahan Ottoman.
  3. K.H. Abdul Wahab bin Hasbullah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama yang berpandangan moderen.

Dengan demikian Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah yang mendakwahkan pemurnian ajaran Islam, berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah, bukan Khawarij.

Karena itu Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mustahil akan menjadi pemberontak, mustahil akan menghalalkan darah sesama Muslim, karena mereka taat kepada Allah, Rasul-Nya dan ulil amri, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

Dari Umamah Shuday bin ‘Ajlan al Bahili radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Saya mendengar Rasulullah ﷺ berkhotbah pada haji Wada’. Beliau bersabda, ‘Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, kerjakan shalat lima kali sehari semalam, shaumlah pada bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat harta bendamu, dan taatilah pemimpin-pemimpin kalian. Maka, kamu semua akan masuk surga Tuhanmu.’” (HR At Tirmidzi 616, Rhiyadhus Shalihin hadits No. 73).

Dalam hadits ini Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan melaksanakan shalat, shaum Ramadhan, menunaikan zakat, taat kepada pemimpin yang memerintahkan apa yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Seorang hamba tidak boleh membangkang kepada pemimpin selama tidak memerintahkan maksiat kepada Allah, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah wajib, baik diperintahkan oleh pemimpin atau tidak.

Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59).

Karena itu, jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihat apa yang dibicarakannya.

Allahu a’lam.

Di posting oleh:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *