Kiat menuju istiqomah (bagian ke-1)
by Adjisar Ch
Istiqomah adalah usaha untuk selalu menjaga perbuatan baik di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara konsisten dan tidak berubah, artinya selalu menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjauhi segala macam bentuk larangan-Nya, misalnya melaksanakan sholat wajib tepat waktu dan tidak menyengaja untuk menundanya, dan melaksanakan dzikir muqayyad setelah sholat.
maka secara singkat, arti istiqomah ialah sifat teguh pendirian dalam melakukan suatu hal secara konsisten, berbeda dengan tawadhu yang berarti sifat rendah hati atau sifat tidak sombong.
Ya, istiqomah adalah konsistensi beribadah, konsistensi beramal saleh, bukan yang angin-anginan beribadah, dan tentu saja beribadah yang berdasarkan tuntunan-Nya dan Rasul-Nya, bukan beribadah berdasarkan logika dan akal manusia.
Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah, adalah yang dikerjakan terus-menerus (Riyadhus Shalihin Hadits No. 142; Muttafaq ‘alaihi HR Bukhari 43; Muslim 485), dan sebaik-baiknya manusia, adalah yang panjang umurnya serta baik pula amal perbuatannya (Riyadhus Shalihin Hadits No. 108; HR At Tirmidzi 2339),
Istiqomah memerlukan kesabaran, tekad dan komitman, serta keteguhan pendirian, dan orang-orang yang istiqomah akan dilindungi langsung oleh Allah SWT baik di dunia dan di akhirat akan mendapat reward surga, sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian (istaqaamuu = istiqomah) mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.” (QS. Fussilat [41]: 30 – 31);
Agar tetap istiqomah dalam keimanan, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Pahami dan amalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar:
Dua kalimat syahadat adalah ikrar, adalah janji seorang hamba dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan terkait dengan janji, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya, Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An-Nahl [16]: 91);
ayat ini menyampaikan peringatan: adanya kewajiban menepati janji; dan adanya larangan melanggar yang telah diikrarkan;
maka semua konsekuensi dari janji yang di ikrarkan harus diterima, jangan diingkari sedikitpun, jangan permainkan janji dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala;
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim [14]: 27);
artinya, Allah SWT meneguhkan orang-orang yang beriman di dunia dalam kebaikan dan amal shaleh, sedangkan di akhirat (alam kubur) dimudahkan menjawab pertanyaan malaikat “Siapa Rabbmu, siapa Nabimu dan apa agamamu”?
Jawaban mereka adalah, karena pemahaman dan pengamalannya yang baik dan benar terhadap dua kalimat syahadat. Dia memahami makna dua kalimat syahadat dengan benar, memenuhi rukun dan syaratnya, serta tidak melanggar larangan Allah berupa menyekutukan-Nya dengan selain-Nya, yaitu berbuat syirik.
Karena itu, untuk mencapai istiqomah, perlu menyibukkan diri dengan belajar ilmu syar’i untuk memperbaiki aqidah, mendalami tauhid dan memahami larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ya, ilmu mendahului amal.
- Tadaburi dan hayati kandungan Al Qur’an:
Allah menceritakan bahwa Al Qur’an dapat meneguhkan hati orang-orang beriman dan Al Qur’an adalah petunjuk kepada jalan yang lurus,
“Katakanlah, “Ruhulqudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).”” (QS. An-Nahl [16]: 102);
Karena itu, Al Qur’an diturunkan secara berangsur untuk meneguhkan hati Rasulullah SAW, sebagaimana firman-Nya:
“Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).” (QS. Al-Furqan [25]: 32);
ayat ini menyampaikan pesan, bahwa pahami dan hayati kandungan Al Qur’an secara bertahap, dan itu berarti bahwa pehaman Al Qur’an akan bertingkat-tingkat, akan berbeda-beda bagi setiap hamba-Nya.
“Dan sungguh, (Al-Qur’an) itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Naml [27]: 77), dan menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’ [17]: 82), dan Al Quran akan jadi petunjuk, bila kandungannya diyakini tanpa keraguan sedikitpun (QS Al Baqarah [2]: 2).
Nah, karena Al Quran sebagai petunjuk, maka tidak cukup hanya sekedar dibaca, namun harus ditadaburi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, dipahami bagaimana petunjuk-Nya, dan petunjuk/ aturan tersebut dilaksanakan/ diamalkan dan terakhir di dakwahkan, dan sebaliknya semua larangan-Nya dijauhi.
Orang-orang yang giat mentadaburi, memahami dan merenungkan ayat-ayat Al Qur’an akan lebih kokoh dan teguh dalam melaksanakan syari’at agama, dan itulah jalan yang harus ditempuh agar terus istiqomah. Allahu a’lam.
Allahu a’lam.
Semoga bermanfaat.
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Insyaa Allah bersambung . . .









Leave a Reply