Kebahagiaan atau kehinaan adalah pilihan???
by Adjisar Ch
Dunia adalah darul amal (tempat beramal), sedangkan akherat adalah darul jaza (tempat pembalasan), dan sebagai seorang muslim harus yakin dengan adanya kehidupan akherat.
Surat Al Fatihah ayat ke- 4 memberikan informasi, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, adalah Pemilik hari pembalasan (maaliki yaumid-diin), dan semua keputusan menjadi hak prerogatif Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selanjutnya pada surat Al Baqarah ayat ke-81 dan 82 diinformasikan, bahwa barangsiapa berbuat keburukan dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya, sedangkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.
Allah Azza Wa Jalla mengingatkan, bahwa Neraka Jahanam akan diisi dengan jin dan manusia (QS Al A’raf [7]: 179), dan tentu saja yang masuk neraka akan berputus asa, akan menyalahkan dirinya sendiri, mereka akan menyesal, penyesalan yang sudah terlambat, penyesalan yang sia-sia.
Kehidupan di dunia ini hanya permainan, sebagaimana firman-Nya: “Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am [6]: 32), dan hal sama juga diinformasikan pada QS Al-Hadid [57]: 20 & QS Muhammad [47]: 36.
ayat-ayat tersebut, memberikan informasi, bahwa bagi orang-orang yang bertaqwa kesenangan di dunia bersifat sementara, hanya kesenangan yang palsu, “negeri akherat lebih baik”, sedangkan bagi orang yang tidak beriman dan tidak bertaqwa, kehidupan di dunia adalah kesenangan dan kenikmatan.
Dalam permainan, tentu saja ada hasil akhir, bisa menang, dapat hadiah, dapat reward, gembira, sedangkan bagi yang kalah akan mendapat punishment dengan kekecewaan dan penyesalan, artinya reward atau punishmaent, kebahagiaan atau kehinaan di akhirat adalan pilihan.
Dalam suatu permainan akan mengandung unsur:
- Durasi waktu permainan;
- Aturan main dan lawan main;
- Hasil permainan (menang dapat reward, dapat hadiah, senang, gembira dan bahagia, atau yang kalah, dapat punishment, dapat kehinaan, kecewa & menyesal yang tiada berguna.
Durasi waktu permainan:
“Allah lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kembali” (QS Ar Rum [30]: 40),
artinya durasi waktu yang pasti telah ditetapkan sebagaimana firman-Nya: “Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak pula dapat meminta penundaannya” (QS Al Hijr [15]: 5),
Karena kehidupan di dunia hanya sebagai permainan dengan durasi waktu yang telah ditentukan, dan waktu itu akan datang secara tiba-tiba, tanpa bisa diprediksi, maka sebagai pemain yang menargetkan kemenangan dan mendapatkan hadiah, perlu memahami aturan permainan, melaksanakannya dengan disiplin. Jangan sampai kena kartu merah karena salah memahami aturan, karena melanggar batas-batas aturan-Nya, yang dapat berakibat terkena punishment, yaitu dimasukkan ke dalam neraka (QS An Nisa’ [4]: 14).
Aturan main & lawan main:
Allah Azza Wa Jalla telah memberikan petunjuk dengan firman-Nya:
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik; mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf [18]: 1 – 3), dan barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (QS Ta Ha [20]: 123).
ayat-ayat ini memberikan informasi, bahwa Allah memberikan petunjuk, peringatan dan khabar gembira yang sangat lengkap untuk kehidupan di dunia yang hanya sementara dan kehidupan di akherat yang kekal, yang selamat hanya yang mengikuti petunjuk-Nya (tiada pilihan), dan selanjutnya manusia akan diuji dengan perintah dan larangan-Nya (QS Al-Insan [76]: 2),
maka untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesenangan di akhirat, ada kewajiban untuk mentadaburi, memahami, meyakini dan melaksanakan petunjuk-Nya.
dilain pihak sebagai lawan/ musuh abadi manusia, setan sudah berkomitmen untuk menyesatkan semua manusia, menjadikan kejahatan/ maksiat terasa indah (QS Al Hijr [15]: 39), dan setan akan menghalangi manusia dari jalan yang lurus (jalan Allah), akan digoda dengan melalaikan urusan akhirat, mencintai dunia, mengaburkan urusan agama/ kebaikan, dan mencintai maksiat/ kejahatan (QS Al A’raf [7] : 16 – 17),
Hasil permainan:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjamin keselamatan manusia yang melaksanakan petunjuk-Nya, dan yang tersesat akan disiksa, sebagaimana firman-Nya:
“Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” QS. Al-Isra’ [17]: 15.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyampaikan bahwa neraka jahanam akan diisi dengan jin dan manusia, yaitu manusia yang tidak menggunakan fasilitas yang diberikan-Nya sesuai fungsi penciptaannya, manusia yang tidak mengikuti petunjuk-Nya, dan mereka dikategorikan lebih hina dari binatang.
“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf [7]: 179).
“Mereka itulah orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci/ ditutup oleh Allah. Mereka itulah orang yang lalai.” QS. An-Nahl [16]: 108, dan akan mendapatkan azab yang berat (QS Al Baqarah [2]: 7).
ayat-ayat tersebut menginformasikan, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dilengkapi dengan pendengaaran, penglihatan dan hati nurani untuk memikirkan ciptaan-Nya, untuk bersyukur kepada-Nya dengan cara menggunakan fasilitas tersebut sesuai fungsinya yang telah ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, selanjutnya akan diminta pertanggung jawabannya, dan yang tidak menggunakan fasilias tersebut sesuai tujuan penciptaan-Nya, dikatakan lebih hina dari binatang, dan akan dijadikan sebagai pengisi neraka jahanam.
Dan orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci/ ditutup oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mampu memahami petunjuk-Nya. Na’uudzubillaah min dzaalik.
maka sebagai rasa syukur dan pertangung jawaban kita atas nikmat dan fasilitas dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mari kita gunakan nikmat pendengaran, penglihatan & hati nurani untuk beribadah kepada-Nya, semoga semua urusan kita dimudahkan & diselesaikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan semua aktifitas kita menjadi amal ibadah.
Allahu a’lam.
Semoga bermanfaa







Leave a Reply