Renungan hari Jum’at.
Dengan ilmu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.
by Adjisar Ch
Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka akan dipahamkannya ilmu dalam urusan agama, dan akan ditinggikan-Nya derajat orang-orang beriman yang diberi ilmu pengetahuan, artinya kebaikan dan derajat seseorang disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala ditentukan oleh pemahamannya tentang ilmu agama.
Orang berilmu lebih tinggi derajatnya (QS Al Mujadilah [58]: 11), karena dipastikan dia beribadah dengan ilmu, kalau ahli ibadah saja, belum tentu dia beribadah dengan ilmu, mungkin karena ikut-ikutan atau kebiasaan, dan bisa masuk kategori yang ibadahnya tertolak dan kelak akan diperlihatkan sebagai debu yang beterbangan (QS. Al-Furqan [25]: 23).
Dalil-dalil yang menjelaskan hal tersebut, antara lain:
Dari Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, Allah pahamkan ia dalam urusan agama.” (Muttafaqun ‘alaihi HR Bukhari 71, Muslim 1037, Riyadhus Shalihin hadits No. 1376).
. . . Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. . . . (QS Al Mujadilah [58]: 11).
. . . Keutamaan orang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang . . . (HR Abu Daud 3641, At Tirmidzi 2682, Riyadhus Shalihin hadits No. 1388).
“Belajar ilmu agama, adalah untuk mencari cinta dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Untuk itu perlu mentadaburi, memahami, meyakini dan mengamalkan petunjuk-Nya.
Allah ﷻ berfirman: “orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan adalah penghuni surga” (Al Baqarah [2]: 82), artinya, keimanan adalah persyaratan mutlak untuk dapat masuk surga.
Iman memiliki kewajiban-kewajiban, syari’at-syari’at, hukum-hukum dan sunnah-sunnah, maka untuk mengetahui dan memahaminya diperlukan ilmu. Artinya tingkat keimanan seseorang ditentukan oleh tingkat pemahaman ilmu agama.
Barangsiapa menyempurnakan kewajiban-kewajibannya dan sunnah Rasulullah ﷺ berarti ia telah menyempurnakan keimanan, dan barangsiapa yang belum menyempurnakannya berarti ia belum menyempurnakan keimanan, artinya untuk menyempurnakan keimanan harus dengan ilmu, karena semua amal shalih terikat dengan tuntunan-Nya.
Maka dengan bertambahnya ilmu, akan menyempurnakan amal shalih, dan akan meningkatkan keimanan.
Iman terdiri dari perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Ucapan terdiri dari ucapan hati dan ucapan lisan. Kadangkala bisa saja hati dengan lisan berbeda, ya lain dimulut lain dihati, lain perkataan lain perbuatan.
Rasulullah ﷺ memberikan informasi, bahwa ucapan termasuk perkara keimanan, dalilnya adalah sabda Rasulullah ﷺ: “Iman itu ada tujuh puluhan cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallaah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (Syarah Shahih Al Bukhari I/44),
Perbuatan dapat dengan lisan, anggota tubuh dan hati, maka keimanan tersusun dari empat perkara, yaitu: keyakinan hati, amalan hati, ucapan lisan dan perbuatan anggota tubuh.
Amalan anggota tubuh, artinya berhubungan dengan fisik (misalnya pelaksanaan shalat dan ibadah haji), merupakan bagian dari iman, sebagaimana firman-Nya: “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” (QS Al Baqarah [2]: 143).
Keyakinan hati, ucapan hati adalah aqidah, dalilnya adalah sabda Rasulullah ﷺ: “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik dan takdir buruk” (HR Al Bukhari 4777; Syarah Shahih Al Bukhari I/ 43).
Amalan hati, dalilnya adalah sabda Rasulullah ﷺ: “Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR Bukhari 9, Syarah Shahih Al Bukhari I/ 43),
Malu merupakan amalan hati, termasuk rasa takut, penuh harap dsb, firman-Nya: “Sesungguhnya mereka adalah setan yang menakut-nakuti kamu dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah engkau takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali ‘Imran [3]: 175),
Rasa takut letaknya di dalam hati, maka ia termasuk amalan hati, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutnya sebagai keimanan.
“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan adalah penghuni surga (Al Baqarah [2]: 82), dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa (kepada mereka dikatakan), “inilah nikmat yang dijanjikan kepadamu, yaitu kepada setiap hamba yang senantiasa bertobat kepada Allah dan memelihara semua peraturan-peraturan-Nya, (yaitu) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih, sekalipun tidak kelihatan olehnya dan dia datang dengan hati yang bertobat”. (QS Qaf [50]: 31 -33).
Taqwa berarti menjaga dan memelihara diri dari hal-hal yang dilarang Allah Subhanahu Wa Ta’ala, memiliki rasa takut terhadap azab Allah disertai penghormatan dan ketaatan kepada-Nya, sehingga orang-orang yang bertaqwa akan sangat berhati-hati dalam segala hal, maka diperlukan ilmu agar dapat membedakan antara tauhid dengan syirik, dapat membedakan antara sunnah dengan bid’ah, dapat mengetahui tuntunan untuk melaksanakan amal shalih.
maka, bagi yang menghendaki kehidupan akherat yang menyenangkan, wajib beriman dan mempunyai rasa takut kepada azab Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, harus dimaknai secara positif, harus dimaknai untuk mendekat kepada-Nya, harus dimaknai dengan usaha mencari cinta dan ridho-Nya dengan mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, sehingga dapat menghantarkan seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya, ibadah yang bersandarlan dalil, ibadah yang berdasarkan tuntunan dengan penuh kepatuhan, keikhlasan dan kekhusyukan.
Sahabat, gunakan ilmu dan rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai alat kontrol terhadap ego pribadi dan nafsu duniawi, guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan untuk meraih kehidupan yang kekal dan menyenangkan di surga.
Allahu a’lam.
Semoga bermanfaat.









Leave a Reply