Rasa takut yang menyelamatkan.
by Adjisar Ch
Manusia dalam mengarungi kehidupan duniawi, terdiri dari tiga phase waktu, yaitu: masa lalu yang harus ditinggalkan, di akhiri dengan taubatan nasuha (QS Ali ‘Imran [3]: 133); masa kini harus dijalani dengan usaha yang optimal/ sungguh-sungguh untuk mencapai target, untuk mencapai harapan/ cita-cita mendapatkan surga (QS Al Isra’ [17]: 19); dan masa yang akan datang adalah harapan dan cita-cita untuk meraih surga yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, dan itu wajib diperjuangkan sejak masa kini.
Harapan dan cita-cita seorang mukmin adalah masuk surga, artinya meyakini adanya kehidupan lain setelah kehidupan di dunia, maka tidak ada ruang untuk berhenti berharap dan berusaha, tiada kata berputus asa untuk mendapatkan surga.
Putus asa, adalah dosa, putus asa adalah kekufuran, “Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanya orang-orang kafir”. (QS Yusuf [12]: 87).
Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa (kepada mereka dikatakan), “inilah nikmat yang dijanjikan kepadamu, yaitu kepada setiap hamba yang senantiasa bertobat kepada Allah dan memelihara semua peraturan-peraturan-Nya, (yaitu) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih, sekalipun tidak kelihatan olehnya dan dia datang dengan hati yang bertobat”. (QS Qaf [50]: 31 – 33).
Bagi yang menghendaki kehidupan akherat yang menyenangkan, maka rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, harus dimaknai secara positif, sehingga dapat menghantarkan seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh kepatuhan, keikhlasan dan kekhusyukan, maka:
- Takut siksa Allah akibat dosa-dosa, kesalahan, kelalaian dan kekeliruan yang pernah diperbuat, akan mendorong seorang hamba untuk segera mencari ampunan-Nya (QS Ali ‘Imran [3]: 133), dan selanjutnya melaksanakan perbuatan baik untuk menghapus kesalahan (QS Hud [11]: 114. Az Zumar [39]: 34 – 35), sehingga akan mendorong seorang hamba untuk berbuat kebaikan, karena semua kebaikan akan dibalas-Nya dengan kebaikan (QS Ar Rahman [55]: 60), dan sebaliknya kejahatan, akan dibalas dengan kejahatan (azab), yaitu menjadi penghuni neraka (QS Yunus [10]: 27).
- Takut tidak dapat menunaikan kewajiban kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kepada sesama, akan mendorong seorang hamba untuk berusaha sungguh-sungguh memperioritaskan kehidupan akherat, maka semua aktifitasnya hanya yang diridhoi dan dicintai-Nya saja. (QS Al Isra’ [17]: 19);
- Takut tertolaknya amal ibadah yang dilakukannya, (melakukan amal ibadah yang sia-sia, melakukan amal ibadah yang tidak sesuai tuntunan-Nya dan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, akan mendorong seorang hamba untuk bertholabul ‘ilmi, mempelajari semua tuntunan-Nya, karena amalan shalih wajib mengikuti tuntunannya, harus ada dalil yang memerintahkannya, amalan yang tidak berdasarkan tuntunannya tertolak (Muttafaqun ‘alaihi HR. Bukhari 2697, Muslim 1718, Riyadhus Shalihin hadits No. 169).
- Takut dihadapkan kepada aneka fitnah (akibat perilaku, bahaya lisan dan nafsu duniawi) serta kemurkaan Allah, akan mendorong seorang hamba untuk meneladani akhlak Rasulullah ﷺ, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab 33: 21). A
Anas radhiyallaahu‘anhu berkata, “Rasulullah ﷺ, adalah orang yang paling baik budi pekertinya.” HR Al Bukhari 6203; Muslim 2150; Riyadhus Shalihin hadits No. 621, dan QS Al Qalam [68]: 4 “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiyallaahu‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ, bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya.” HR Al Bukhari 3559; Muslim 2361; Riyadhus Shalihin hadits No. 625.
- Takut su’ul khatimah (akhir kehidupan atau kematian yang buruk), akan mendorong seorang hamba merasa selalu di awasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga seorang hamba disetiap saat, hanya akan melaksanakan aktifitas yang diridhoi dan dicintai-Nya, dan berusaha secara optimal agar semua aktifitas bernilai ibadah karena ajal akan datang tiba-tiba.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam hati.” (QS. Ghafir/ Al Mu’min [40]: 19), Dia melihat ketika seseorang berdiri untuk shalat, dan melihat perubahan gerakan badannya diantara orang-orang yang sujud (QS Asy Syu’ara [26]: 218 – 219), artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui kondisi manusia dalam segala situasi, manusia diawasi-Nya dengan sangat ketat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala melihat setiap ciptaan-Nya disetiap saat. Dia mengetahui tentang pandangan mata hamba-Nya, baik yang jujur ataupun yang khianat, Dia juga sangat mengetahui yang tersembunyi dalam hati, detakan hati dan semua rahasia yang ada di dalamnya.
Ilmu Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat sempurna dan meliputi segala sesuatu, agar manusia waspada terhadap pengetahuan-Nya. Lalu merasa malu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar malu dan bertaqwa kepada-Nya dengan sebenar-benar taqwa, serta merasa diawasi-Nya dengan pengawasan yang sangat sempurna.
Peringatan tentang pengawasan yang sangat sempurna ini akan mendorong bagi seluruh hamba-Nya untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, dan sebaliknya akan merasa malu bila tidak patuh dan taat kepada-Nya, malu berfikir negatif terhadap segala keputusan dan atau apapun yang terjadi atas izin-Nya, malu tidak bertaqwa kepada-Nya. Allahu a’lam.
Jika demikian sempurnanya pengetahuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, demikian sempurnanya pengawasan-Nya terhadap semua ciptaan-Nya, tentu termasuk pengawasan semua aktifitas seorang hamba, gerak gerik seorang hamba, maka seorang mukmin akan “melaksanakan semua perintah-Nya bersandarkan tuntunan-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya untuk mendapatkan ridho dan cinta-Nya” dan dengan demikian insya Allah akan mendapatkan “husnul khotimah”. Aamiin Yaa Rabbal‘alamiin.
- Takut azab kubur, pengadilan dan azab Allah di akhirat kelak, kata kuncinya adalah: “tinggalkan masa lalu dengan bertobat, masa kini berjuang dengan sungguh-sungguh secara optimal untuk mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya”, karena hanya “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya” (QS Al Baqarah [2]: 82, dan Al Mu’minun [23]: 1 – 11).
Sahabat seiman, mari gunakan rasa takut sebagai alat kontrol terhadap ego pribadi dan nafsu duniawi, untuk meraih harapan kehidupan yang kekal dan menyenangkan di surga.
Allahu a’lam.
Semoga bermanfaat








Leave a Reply