Kewajiban Introspeksi Diri

/

/

Kewajiban Introspeksi Diri

Eko Suwarsono Avatar
Share this…

.

Kewajiban introspeksi diri.
by Adjisar Ch

Tanpa dirasa dan terasa, jatah usia kita telah semakin berkurang, beberapa sahabat kita telah datang ajalnya, dan giliran kita pun pasti akan datang, hanya waktunya merupakan rahasia Ilahi. “Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun.” (Qs Al a’raf [7]: 34).

Sebelum ajal tiba, dan untuk meringankan hisab, perlu dilaksanakan muhasabah, sesuai perintah Al Qur’an Surat Al Hasyr [59]: 18 “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”

ayat ini memerintahkan seorang hamba agar memperhatikan “apa yang telah diperbuat untuk kehidupan akherat”, dan itu berarti perintah untuk melakukan muhasabah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya (Az Zariyat [51]: 56), ibadah yang berkualitas (Al Mulk [67]: 2; Hud [11]: 7); selanjutnya diuji dengan perintah dan larangan-Nya (Al Insan [76]: 2),

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperingatkan hamba-Nya, bahwa “Sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, disebabkan oleh kedzlimannya, niscaya Dia tidak akan menyisakan satupun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan hukumannya sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS Fatir [35]: 45, QS An Nahl [16]: 61).

ayat ini memberikan informasi, bahwa manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia, tidak seorangpun yang tidak berdosa, karena melanggar hukum-hukum Allah, karena bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hal ini terjadi karena memperturutkan hawa nafsu, padahal “nafsu akan mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah SWT” (QS Yusuf [12]: 53).

Selain itu, buah pemikiran yang dihasilkan manusia, yang dibangga-banggakan, tidak jarang menyelisihi kebenaran, tidak sedikit yang bertentangan dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, akibatnya mereka akan terpecah belah ke dalam beberapa golongan, dan setiap golongan akan merasa bangga dengan golongannya (QS Al Mu’minun [23]: 53).

Oleh karenanya, seiring waktu yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada manusia di dunia, sepatutnya dipergunakan untuk mengintrospeksi segala perilaku dan pemikiran yang dimiliki, sehingga memotivasi untuk menjadi lebih baik, memotivasi untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam perspektif Islam, introspeksi diri disebut “muhasabah”, yaitu peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, kesalahan, kekeliruan dan atau merenungkan dan memperhatikan semua hal yang pernah dilakukan, baik yang berkotonasi baik atau buruk, termasuk memperhatikan niat dan tujuan suatu perbuatan yang dilakukan, serta menghitung untung dan ruginya, bermanfaat ataukah tidak bermanfaat.

Semua amal perbuatan tergantung niat (Muttafaqun ‘alaihi HR Bukhari 1, Muslim 1908, Riyadhus Shalihin hadits No. 1), dan niat adalah amalan hati, maka hati merupakan pengaruh dominan yang akan menentukan kondisi seseorang.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala membedakan antara hati orang-orang yang berdosa dengan hati orang-orang yang beriman & mengerjakan kebajikan.

Ke dalam hati orang yang berdosa dimasukkan olok-olok, sifat dusta dan ingkar (QS Al Hijr [15]: 12 & Asy Syu’ara’ [26]: 200), sedangkan ke dalam hati orang-orang beriman & mengerjakan kebajikan akan ditanamkan rasa kasih sayang (QS Maryam [19]: 96).

Dengan muhasabah, seorang hamba akan membuka hati dan menyadari segala dosa dan kekeliruannya, dan setelah itu sebagai seorang muslim yang taat akan bertaubat, dan berniat dengan sungguh-sungguh:

  1. akan meninggalkan kemaksiatan yang pernah dilakukan;
  2. menyesali atas apa yang telah dilakukan dan
  3. bertekad tidak akan mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selamanya.

Muhasabah adalah perintah langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala (QS Al Hasyr [59]: 18), dan dengan bermuhasabah akan mendorong seorang hamba yang beriman untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, menilai dirinya sendiri sebelum menilai orang lain. Apakah dirinya sudah pantas menjadi seorang hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang baik, yang taat, dan apakah amal shalihnya, dan aktifitasnya bersandarkan tuntunan-Nya?

Kehidupan di dunia, adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan untuk mengumpulkan bekal bagi perjalanan menuju ke kehidupan akherat yang kekal, karena itu semua aktifitas harus diisi dengan hal-hal yang diridhoi dan dicintai-Nya.

Hanya orang-orang yang beriman dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk kehidupan akhirat yang beruntung, sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS Al Isra’ [17]: 19).

Muhasabah merupakan tolok ukur keimanan seseorang, artinya keimanan seorang hamba Allah ditentukan oleh sejauh mana dia dapat mengintrospeksi diri untuk menuju yang lebih baik, sejauh mana seorang hamba dapat mengetahui dan menyadari kekurangannya dalam melaksanakan tugas sebagai manusia;

Seseorang akan sulit berubah, akan sulit hijrah, bila tidak memahami dan mengakui kekurangan dan kekeliruannya, artinya perubahan hanya akan terjadi atas dorongan dirinya sendiri.

Muhasabah merupakan karakteristik seorang yang bertaqwa, dengan menghisab diri sendiri. Hal ini akan menimbulkan kesadaran atas kekurangannya, selanjutnya menimbulkan motivasi untuk meningkatkan kualitas amal shalihnya untuk mendapatkan cinta dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Muhasabah adalah kunci kesuksesan di dunia, dan di akherat, karena dengan bermuhasabah akan memotivasi untuk berbuat lebih baik dari waktu yang telah berlalu.

Seorang mukmin tidak akan bersantai dalam menjalani kehidupan duniawi, karena meyakini adanya hari pembalasan, meyakini bahwa seseorang akan memperolah yang diusahakannya, meyakini akan tiba saatnya tidak ada yang dapat menolong, meyakini Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengawasi dengan ketat, meyakini adanya kehidupan akherat yang kekal, meyakini adanya surga dan neraka.

Dengan mengetahui kekurangannya, dengan mengetahui kekeliruannya, dengan menyadari telah bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan menyadari telah menyelisihi petunjuk-Nya dan petunjuk dari Rasul-Nya, akan mendorong seorang mukmin untuk takut berbuat yang tidak di ridhoi dan dicintai-Nya, takut melanggar batas-batas hukum-Nya, takut azab-Nya yang menghinakan, sebagaimana firman-Nya:

“Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka,, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan.” (QS An Nisa’ [4]: 14).

Sebaliknya bagi orang-orang yang bertaqwa, yang beriman dan mengerjakan kebajikan disediakan surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya (QS Al Qalam [68]: 34, QS Al Kahf [18]: 107).

Allahu a’lam.
Semoga bermanfaa

Di posting oleh:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *