Pemateri : Ust Hilman Abu Attaqy, M.Pd.
Oleh-oleh Isra Mi’raj
Latar belakang sebelum terjadinya peristiwa Isra Mi’raj sangatlah kompleks. Hal ini bermula setelah Nabi Saw diperintahkan untuk berdakwah terang-terangan pada tahun ke-3 kenabian. Pada tahun ke-3 kenabian turun ayat :
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ ٩٤
Maka, sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (Q.S Al-Hijr : 94)
Dan beliau secara khusus diperintahkan untuk berdakwah di lingkup terdekatnya (keluarganya) :
وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَۙ ٢١٤
Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. (Q.S Asy-Syuaro : 214)
Perjuangan dan tantangan dakwah dimulai pada tahun ke-3, dan puncak ujian yang diterima oleh Nabi Saw adalah pada tahun ke-10 saat kedua orang tercintanya wafat, yaitu Siti Khadijah dan Abu Tholib.
Karena kesedihan beliau, Allah Swt mengundang Nabi Saw untuk bertemu dengan-Nya. Allah Swt Meng-Isro-kan Nabi Saw (Memperjalankan Nabi Saw pada malam hari) dari Masjid Al-Harom ke Masjid Al-Aqso di kota Palestina. Dari Palestina Nabi Saw diMi’rajkan (diangkat) ke sidratul Muntaha di langit ke-7.
Kenapa Nabi Saw harus di-isro-kan dari Mekkah ke Palestina? Bukankah Baitul Makmur (Ka’bah malaikat yang berada di langit ke-7) sejajar dengan Ka’bah yang berada di Mekkah? Kenapa tidak Allah Swt Mi’rajkan dari Mekkah ke langit ke-7 (Baitul Makmur).
Sahabat sekalian, selama perjalanan pada malam hari, Nabi Saw menjelajahi (napaktilas) perjuangan para Nabi sebelum beliau. Beliau singgah di bukit tursina tempat Nabi Musa As menerima wahyu, dan tempat bersejarah lainnya, sampai tiba di Masjid Al-Aqso untuk mengimami para Nabi yang kurang lebih berjumlah 124.000 yang telah menunggu kedatangan beliau.
Dari sana (Masjid Al-Aqso), Nabi Saw didampingi Malaikat Jibril As diMi’rajkan. Beliau menitih setiap pintu langit, dan bertemu dengan saudara-saudaranya dari kalangan Nabi, di antaranya :
- Nabi Adam As di langit pertama.
- Nabi Yahya dan Nabi Isa As di langit kedua.
- Nabi Yusuf di langit ketiga.
- Nabi Idris As di langit keempat.
- Nabi Harus As di langit kelima.
- Nabi Musa As di langit keenam.
- Nabi Ibrahim As di langit ketujuh (sidrotul Muntaha).
Di setiap langit, beliau Nabi Saw curhat dan menceritakan problem dakwah yang beliau hadapi, hal ini karena mereka (para Nabi yang dijumpai beliau di setiap langit) memiliki masalah yang sama yang telah purna mereka sukses selesaikan. Nabi Adam As yang terusir dari kampung halamannya (surga), Nabi Isa As yang menerima ancaman pembunuhan, Nabi Yusuf yang dimusuhi oleh saudara-saudaranya, menjadi semangat baru bagi Nabi Saw, bahwa masalah yang diemban beliau, telah diemban oleh Nabi-Nabi sebelumnya.
Singkat cerita, setelah Nabi Saw menerima perintah sholat 50 waktu, beliau turun ke langit keenam dan bertemu Nabi Musa As. Nabi Musa As yang penasaran menanyakan, “apa yang Allah Swt perintahkan kepadamu?”, maka Nabi Saw menyampaikan apa yang telah diperintahkan. Nabi Musa As memberi usulan dan desakan, supaya Nabi Saw meminta keringanan kepada Allah Swt untuk ummat Nabi Saw.
Akhirnya Allah Swt menetapkan Keputusan final-Nya, bahwa waktu sholat sehari semalam berjumlah 5 waktu, namun memiliki pahala 50 waktu sholat, setiap amal kebaikan dikali lipat menjadi 10 kebaikan, dan keburukan hanya akan dicatat 1 kejahatan.
Sahabat sekalian, oleh-oleh Isra Mi’raj yang dibawa Nabi Saw untuk kita bukanlah beban. 50 kali waktu sholat menunjukan “bagaimana Allah Swt sangat rindu bertemu hamba-hamba-Nya, Dia sangat menginginkan kita selaku hamba-Nya baik-baik saja, sebagaimana kasih sayang ibu kepada anaknya yang berada di pondok pesantren, ia ingin menjenguk dan memastikan anaknya baik-baik saja.”








Leave a Reply